Jakarta 3 Maret 2026, – kabaripost.com
Pada hari yang berbahagia ini, dalam rangka World Sleep Day dengan tema Sleep Well, Live Better, ijinkan saya menyampaikan beberapa hal penting terkait gangguan tidur, dengan penekanan khusus pada Obstructive Sleep Apnea (OSA) yaitu suatu kondisi yang sering tidak disadari, namun berdampak besar bagi kesehatan, produktivitas dan kualitas hidup masyarakat.
Gangguan tidur merupakan spektrum kondisi medis yang mempengaruhi kualitas, durasi dan pola tidur seseorang.
Secara umum, gangguan tidur dapat dibagi menjadi beberapa kelompok
utama seperti:
1.Insomnia: kesulitan memulai atau mempertahankan tidur
2.Sleep-related breathing disorders: gangguan napas saat tidur, termasuk Obstructive Sleep Apnea
3.Gangguan Hipersomnia: rasa kantuk berlebihan di siang hari
4.Parasomnia: Perilaku abnormal saat tidur seperti sleep walking, sleep talking
5.Restless Leg Syndrome: dorongan tidak tertahankan untuk menggerakkan kaki saat malam hari
6.Gangguan ritme sirkadian : gangguan jam biologis tubuh
Salah satu gangguan tidur yang paling sering namun kurang disadari oleh klinisi dan Masyarakat Adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA).
OSA adalah kondisi terjadi sumbatan berulang pada saluran napas bagian atas saat tidur yang menyebabkan henti napas sesaat (apnea) dan napas dangkal (hypopnea).
Keadaan ini dapat terjadi puluhan kali bahkan ratusan kali dalam satu malam tidur.
Gejala utama OSA meliputi:
1.Mendengkur
2.Henti napas saat tidur
3.Tersedak/ terbangun dengan rasa tercekik
4.Kantuk berlebihan di siang hari
5.Sakit kepala pagi hari
6.Konsentrasi menurun
7.Perubahan suasana hati menjadi mudah marah
Faktor risiko utama OSA Adalah laki-laki, obesitas, lingkar leher besar, usia lanjut, wanita menopause, kelainan anatomi saluran napas.
Dampak yang ditimbulkan adalah seluruh penyakit vaskuler seperti stroke, hipertensi, diabetes
mellitus, kecelakaan lalu lintas akibat microsleep, obesitas, pengentalan darah, peningkatan risiko penyakit jantung koroner, impotensi, gangguan mental, penurunan produktivitas, penurunan imunitas tubuh.
Epidemiologi Gangguan tidur dan OSA Secara global, gangguan tidur diperkirakan dialami oleh 30-45% populasi dewasa. Untuk OSA, dan internasional menunjukkan bahwa sekitar 1 miliar orang di dunia memiliki OSA derajat ringan hingga berat. Di Asis, khususnya di Indonesia, prevalensinya meningkat seiring dengan bertambahnya angka obesitas dan perubahan gaya hidup.
Namun masalah utamanya bukan hanya tingginya prevalensi melainkan rendahanya angka diagnosis. Diperkirakan 80% kasus OSA tidak terdiagnosis karena kurangnya kewaspadaan masyarakat dan tenaga kesehatan, fasilitas pemeriksaan seperti polisomnografi sebagai alat diagnostic OSA masih terbatas pada kota besar serta terapi OSA yang seringkali tidak mampu laksana.
Di Indonesia, data nasional masih terbatas, namun studi local OSA cukup banyak ditemukan khususnya pada kelompok pasien obesitas, hipertensi resisten, penderita DM tipe 2 dan pekerja dengan tuntutan konsentrasi tinggi seperti pengemudi.
OSA merupakan masalah sosial dan ekonomi OSA bukan hanya masalah medis, tetapi juga merupakan masalah sosial dan ekonomi suatu negara.
Dampaknya seperti peningkatan risiko kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja akibat rasa kantuk yang berlebihan, penurunan produktivitas kerja, biaya pengobatan komplikasi seperti stroke dan penyakit jantung, obesitas, gangguan metabolisme, serta pengentalan darah akan menjadi beban sosial dan ekonomi bagi keluarga dan negara.
Studi global menunjukkan bahwa beban ekonomi akibat OSA yang tidak tertangani mencapai miliaran dollar setiap tahun dan jika tidak tertangani secara dini dan sistematis, dampaknya akan semakin besar terhadap system Kesehatan nasional.
Tantangan yang dihadapi di Indonesia,
Beberapa tantangan utama di Indonesia antara lain:
1.Rendahnya kesadaran Masyarakat bahwa mendengkur bisa berbahaya
2.Keterbatasan fasilitas diagnostic dan tenaga terlatih
3.Biaya pemeriksaan dan terapi yang belum terjangkau sepenuhnya
4.Stigma bahwa gangguan tidur bukan masalah yang serius bahkan mendengkur dianggap sesuatu yang lumrah saat sesorang kecapean
5.Kurangnya skrining rutin di layanan primer
Strategi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
Sebagai organisasi profesi, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) memiliki beberapa
strategi utama:
1.Edukasi dan kampanye public untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya tidur sehat.
2.Pelatihan dokter dan tenaga Kesehatan dalam deteksi dini OSA
3.Pengembangan jejaring layanan sleep medicine di berbagai daerah
4.Advokasi kebijakan agar skrining OSA masuk dalam tata laksana penyakit kronik
5.Kolaborasi dan ikut mengambil bagian secara aktif dalam team multidisplin yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu seperti bagian jantung, bagian neurologi, bagian THT, bagian
ilmu penyakit dalam, bagian kedokteran jiwa, bagian pediatri, serta bagian gigi mulut.
6.Ikut menjadi anggota sekaligus pengurus aktif organisasi kesehatan tidur di tingkat nasional dan internasional
Komitmen PDPI.
PDPI berkomitmen untuk;
1.Mendorong peningkatan akses diagnosis dan terapi OSA
2.Mengembangkan pedoman nasional berbasis bukti
3.Mendukung penelitian epidemiologi gangguan tidur di Indonesia
4.Berperan aktif dalam kebijakan Kesehatan nasional terkait Kesehatan tidur
Kami percaya bahwa tidur yang berkualitas dan cukup adalah investasi kesehatan jangka panjang suatu bangsa
Pesan untuk Masyarakat;
Rekan-rekan media yang saya hormati dan saya banggakan, pada kesempatan World Sleep Day ini, ijinkan saya menyampaikan beberapa pesan penting:
1.Jangan anggap remeh mendengkur dan rasa kantuk yang berlebihan.
2.Jika anda atau anggota keluarga mengalami gejala OSA, segera konsultasikan ke dokter.
3.Jaga berat badan ideal.
4.Terapkan pola hidup sehat: olahraga teratur, hindrai rokok dan alcohol serta jaga.
kebersihan tidur anda (sleep hygiene)
5.Ingatlah bahwa tidur Adalah kebutuhan biologis dasar untuk restorasi sel tubuh anda.
6.Dengan kualitas dan durasi tidur yang baik, kita meningkatkan seluruh Kesehatan organ kita, Kesehatan mental serta produktivitas kerja.
Mari kita jadikan momentum World Sleep Day yang jatuh pada tanggal 13 Maret 2026 sebagai suatu Gerakan nasional untuk Indonesia yang lebih sehat. (red)
