Jakarta – kabaripost
Nama Feri Amsari kini telah menjadi simbol keberanian intelektual dalam dunia hukum tata negara di Indonesia. Lahir di Padang, 2 Oktober 1980, pria yang berakar dari Bayang, Pesisir Selatan ini bukan sekadar akademisi di belakang meja. Ia adalah aktivis hukum yang konsisten berdiri di garis depan untuk mengawal tegaknya demokrasi dan keadilan konstitusi di tanah air.
1. Akar Perjuangan dan Jejak Akademik
Meskipun lahir di Padang, masa kecil Feri sempat berpindah ke Muara Bungo, Jambi, mengikuti tugas sang ayah. Namun, jiwanya sebagai putra Minang membawanya kembali ke “Rumah Gadang” intelektual, Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand).
Sejak mahasiswa, benih aktivisme Feri sudah terlihat nyata. Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Hukum Unand (2002–2003) dan aktif di pers mahasiswa. Kecerdasannya terbukti lewat raihan gelar Magister Hukum di Unand dengan predikat Cumlaude (IPK 3,9). Tak berhenti di sana, ia mempertajam cakrawala hukumnya ke Amerika Serikat hingga meraih gelar Master of Laws dari William & Mary Law School, Virginia.
2. PUSaKO: Laboratorium Ide dan Integritas
Bagi publik hukum, Feri Amsari sangat identik dengan Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Unand. Menjabat sebagai Direktur sejak 2017 hingga 2023, Feri berhasil menjadikan lembaga ini sebagai salah satu pusat studi hukum paling berpengaruh dan kritis di Indonesia. Dari Padang, suara-suara kritis PUSaKO seringkali menjadi rujukan nasional dalam menyikapi berbagai polemik undang-undang dan kebijakan kenegaraan.
3. Fenomena “Dirty Vote” dan Sorotan Nasional
Nama Feri Amsari semakin melambung dan menjadi sorotan luas saat ia muncul sebagai salah satu tokoh utama dalam film dokumenter viral, Dirty Vote. Bersama dua rekan sejawatnya, Bivitri Susanti dan Zainal Arifin Mochtar, Feri menjabarkan analisis hukum tata negara mengenai dugaan kecurangan sistematis dalam pemilu.
Keberaniannya membedah data dan fakta di tengah tensi politik yang tinggi mengukuhkan posisinya sebagai akademisi yang berani mengambil risiko demi menjaga marwah demokrasi.
4. Intelektual yang Haus Menulis
Mengenal sosok Feri Amsari berarti mengenal seorang penulis yang produktif. Baginya, hukum harus dipahami oleh semua orang. Ia aktif menuangkan pemikirannya di berbagai media nasional seperti harian Kompas, hingga media lokal seperti Padang Ekspres dan Haluan. Gaya bahasanya yang lugas namun kaya akan argumen hukum membuat tulisannya selalu dinanti oleh publik.
5. Representasi “Cadiak Pandai” Minangkabau
Feri Amsari adalah perwujudan modern dari filosofi “Cadiak Pandai” dalam adat Minangkabau—intelektual yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga bijak dan berani menyuarakan kebenaran demi kepentingan kaum dan bangsanya. Di usia 45 tahun, ia terus menjadi obor pencerahan bagi mahasiswa hukum dan masyarakat luas.
Sumber: Wikipedia Basaha Indonesia (Profil Feri Amsari), (red/AIPBR)
